Tuesday, December 2, 2014

Tuhan kita adalah Allien ?


Petang itu mereka ( Adam & Hawa ) mendengar TUHAN Allah berjalan di dalam taman, lalu mereka berdua bersembunyi di antara pohon-pohon supaya tidak dilihat oleh TUHAN.( Kej 3 : 8 )  Itulah pertamakali interaksi antara Manusia dan Allah di ceritakan oleh alkitab, tetapi hal ini juga mengisyaratkan bahwa sebelum manusia melakukan kesalahan pengingkaran terhadap keinginan Allah, pergaulan antara Manusia dengan Allah kita rasa telah terjalin.
Apa yang menjadi argumen bahwa pergaulan mereka antara  Alah dengan Manusia telah terjalin cukup lama? Sebagai Makluk yang diciptakan oleh Allah, saat itu umur Manusia belum dapat disebut sebagai makluk yang mempunyai peradaban layak. Oleh sebab itu dapat di katakan bahwa manusia pertama ini bisa disebut sebagai bayi dewasa. Dimana kemampuan berfikir Manusia dalam menyerap pengetahuan, menganalisa persoalan ,serta mengembangkan pengetahuanya masih sangat terbatas, sementara secara fisik dapat dikatakan telah dewasa, karena mereka telah mengenal reproduksi dalam mengembangkan keturunan. Maka ketika  manusia pertama itu mampu mengidetifikasi suara langkah atau keberadaan dari Allah ketika ada di taman, hal ini menunjukkan bahwa pertemuan antara Manusia dan Allah bukan hanya sekali terjadi, sehingga ketika terdengar suara langkah di taman ,manusia pertama tersebut dapat menganalisa serta memastikan, bahwa sebuah suara yang sedang berjalan dalam taman tersebut adalah  Allah.
Selanjutnya apakah secara visual Manusia  pertama pernah melakukan bertatap muka dengan Allah...? Hal tersebut tidak pernah di ceritakan dalam catatan Alkitab secara jelas, namun yang pasti bahwa Manusia pertama bersembunyi   setelah melakukan ketidak taatanya kepada Tuhan, dengan maksud bahwa melakukan cara ini mereka berharap    tidak dilihat Tuhan.Hal ini menandaskan keyakinan kita sebelumnya diperkirakan manusia pertama ini sudah sering bergaul erat dengan Tuhan, dan secara visual sangat mungkin mereka dapat melihat sosok pribadi dari Allah secara langsung
Kesimpulanya bahwa Manusia pertama ini dapat melihat secara langsung pribadi Roh, atau makluk Roh, yang ada atau sedang berada di planet Bumi. Kalau demikian berarti adanya gradasi indera manusia secara umum pada saat ini, dimana kemampuan dalam memvisualisasi makluk Roh menjadi hilang atau menipis. Hal ini menjadi salah satu pertanyaan penulis yang sampai saat ini belum menemukan jawaban atas hal tersebut.
Gradasi atas menghilangnya kemampuan indra penglihatan terhadap makluk Roh ini secara piriodik dapat diperlihatkan secara terang apabila kita mau menelusuri kisah dan tulisan kuno alkitab yang ada, apabila kit teliti maka kemampuan tersebut makin lama makin turun. Sebagai contoh, bahwa anak anak Allah bermain main dengan Manusia bumi pada awal keberadaan Manusia Pertama. Kemudian ketika Zaman Nuh, Nuh masih mampu berbicara dengan para malaikat secara langsung ketika Allah memerintahkan Nuh untuk membuat Perahu, lalu Abraham yang masih dapat bernegosiasi dengan Malaikat, dan Lut pun menjamu malaikat dirumahnya.
Dasar pemikiran kita adalah apakah malaikat tersebut  hanya dapat dilihat oleh Abraham dan Lut seorang diri ? tetntu tidak, karena ketika Lut menerima malaikat tersebut di rumahnya maka Anak, Menantu serta para tetangga menyaksikan peristiwa tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa  kemampuan dapat melihat makluk roh tidak hanya dimonopoli oleh Abraham dan Lut saja tetapi  manusia sekitar mereka saat itu mampu melihat makluk roh tersebut secara umum.
Kemudian kita bandingkan dengan penglihatan manusia terakhir, ketika Daud para raja dan zaman Yesus. Dimana kemampuan melihat ,berbicara dengan makluk Roh tersebut telah mengalami subjektifitas, karena hanya yang bersangkutan dapat berkomunikasi  secara langsung. Pada generasi selanjutnya penglihatan serta komunikasi antara Makluk Roh dengan manusia semakin bias, sehingga dapat dikatakan bahwa percakapan tersebut dapat dikatakan hamper tidak pernah terjadi lagi, kalaupun ada sifatnya sangat individualis.
Yang saya katakana subjektifitas  dimaksud adalah ketika seseorang mengaku bertemu dengan Pribadi Roh, lewat mimpi ataupun transedental, hal tersebut menyimpan banyak pertanyaan pertanyaan yang mengarah pada pembuktian materiil bukan imaginer.Seperti apakah hasil komunikasi tersebut ada pembuktian nyata, hal tersebut menjadi sebuah debatable yang tak bertepi.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home